Disisa hidup saya sebagai manusia tentu tidak lagi membutuhkan persepsi akan tetapi membutuhkan keyakinan. Kenikmatan Iman itu melebihi kemampuan analisa dan akhirnya mendapatkan sebuah pengakuan atau sebuah permainan yang menang itulah yang merasakan kesenangan.
Id, Ego, superego, consciousness dan unconsciousness, dan sebagainya memang dibutuhkan untuk berkomunikasi, namun bukan berarti keyakinan dan bagi saya itu adalah penyamaan persepsi.
Konsep iman terhadap alam semesta baik makro dan mikrocosmos sangat diperlukan. Cara pandang yang diyakini namun mampu menjawab setiap permasalahan dengan indah tentu diperlukan. Mampu mengharmonisasikan segala yang ada dalam sebuah sistem keilahian. Seperti jualan jamu saja.....tapi itu hak setiap manusia tentunya, jika mampu menemukan selain yang aku yakini tentu bukan hak saya untuk menghakimi.
Keyakinan saya, sexual drive, love, norma, etika dan lain-lain memang bisa diterima secara akal, namun masuk secara akal dan sesuai dengan kaidah-kaidah keyakinan memang tidak bisa terpisahkan dalam keyakinan saya. Dalam ajaran agama yang saya anut, seakan tidak ada ruang yang menyisakan untuk setiap tema kehidupan.
Konsep Syaitan dalam alam fikiran dan keutamaan Dzikir, kemuliaan Alqur'an dalam multi dimensi tafsir, dan sebagainya yang menyangkut metafisis dan fisis bahkan psikologis memang tak mampu dipaksakan untuk digantikan.
Tentu iri, dengki, sombong, emosi, kikir, hasut tak semua terbahas dalam psikologi. Namun, dalam ajaran Islam itu termasuk. Islam dan keirian dan kedengkian terhadapnya memang seakan tiada akhirnya. Mungkin saatnya Islam mampu bertahan tanpa kekuatan Militer dalam mengaktualisasikan keyakinannya bahkan sebuah institusi yakni negara namun lebih kepada penghargaan Islam atas akal jika "dipecundangi" di lemahkan secara sistematis, atau ditindas. Kemuliaan manusia itu ditentukan oleh kedalaman Ilmunya. Namun jika ada sebuah negara yang menggunakan Islam sebagai sistem di negaranya itupun tidak masalah asal dalam pelaksanaannya tidak melanggar kebebasan berfikir.
Islam dan berfikir sungguh sangat indah jika dipelajari melalui kitabnya. Bagaimana pencarian nabi musa, konflik batin nabi Muhammad SAW, jawaban-jawaban atas keraguan-keraguan beliau, bagaimana kisah yang bisa diambil hikmahnya dari rasul-rasul yang lain. Sebuah rangkaian indah dan natural namun luar biasa cara Tuhan memberikan pesan kepada makhluknya dalam sebuah misteri yang terpecahkan hanya saat raga terpisah dengan ruhnya. Jika mampu mengambil hikmah dari alam semesta ini, tentu bisa memahami kasih Tuhan kepada seluruh alam, namun Islam adalah agama terakhir suka atau tidak suka, mau atau tidak mau.....komunikasi yang memang sampai kepada Alqur'an saja kita untuk berkomunikasi. Namun dalam makna-makna masih akan tersirat.
Bagaimana manusia seharusnya adalah sebuah misteri yang belum bisa terpecahkan. Banyak teori menjelaskan, namun pada tataran praktis kadang tidak sesuai. Namun dalam menemukan keseimbangan dalam hidup memang sangat dibutuhkan. Pandangan-pandangan mengenai hakekat kehidupan menemukan titik yang hampir sama, namun mungkin ada beberapa yang terlewatkan.
Iman itu keyakinan, namun keyakinan itu perlu namanya pembenaran dan pembenaran tentu membutuhkan kerangka acuan, kerangka acuan itu yang merupakan permasalahan yang mendasar. Sebagai seorang Muslim, tentu tidak mengalami kesulitan, kemudahan berupa rumus2 praktis, bagaimana pola hubungan muamalah yang berupa satu ajaran praktis dan sebetulnya jika dengan kerangka yang holistis semua saling terkait.
Jika apa yang diungkapkan dari Muhammad itu muncul dari dirinya sendiri tentu tidak akan mampu menjelaskan simpul-simpul hidup. Setiap permasalahan hidup serasa mampu dijawab oleh beliau. Tuhan dan manusia dan bentuk komunikasi "unik" pun bisa dijawab. Tujuan hidup manusia, manusia yang beruntung, hikmah, proses penciptaan manusia, akhir dari kehidupan di bumi, memperhatikan kaum yang lemah, penekanan iman dan amal sholeh yang berulang, ajaran kesabaran, keberanian, ketakutan yang sebenarnya, dan masih banyak yang lainnya.
Selalu muncul perbedaan kafir dan beriman, dan keberuntungan bagi yang memiliki iman, bahkan akhir dunia adalah sebatas mana manusia mengakui atau meyakini adanya sang Khaliq. Manusia memang diberikan akal, dan itu merupakan kelebihan manusia. Proses yang diyakini oleh kaum "evolusi" tentu masih sangat dan belum bisa menjelaskan proses detail perubahan-perubahan fisik...hanya sebatas proses tak tampak dan tentunya itulah "ujian" bagi orang beriman. Tentu sampai batas ini...orang beriman masih memiliki peluang besar, karena sampai saat ini belum mampu manusia dengan akal, uang dan teknologinya mengungkap benda paling kecil dan hampir sama dengan ketidakmampuannya melihat batas alam semesta. Dalam Alqur'an juga disebutkan kalau manusia bisa menembus pintu langit. Mungkin sebatas melihat, namun manusia belum menemukan batas dari alam semesta. (to be continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar